This Situation Is By No Mean HOPELESS

Then when someone ask me about pension,  I must say  do we have the privilege to dream our pension, while our kids are still spoil and hopeless ? “

Hari ini saya sempet mampir ke blok pak Khalid melihat tulisannya  mengenai apa yang akan dilakukan pak Gatot sebelum pensiun, well it linked nicely dengan fikiran yang telah seminggu ini menggantung di fikiran saya. Meskipun penulis bukan pegawai negeri, namun angka 20-25 tahun kedepan nampaknya merupakan waktu yang terlihat pas, untuk mengukur jejak berapa banyak amal yang telah diukir sebagai bekal perjalanan selanjutnya….

Namun sebelum datang masa masa pensiun tersebut, ada baiknya kita memandang kedepan dan problema saat ini yang ada dihadapan kita. Dimulai dengan harga minyak melambung 128 USD/barrel,  sebuah hal yang pasti akan terjadi melihat konsumsi energi yang sedemikian tinggi. Disambung lagi dengan sebuah tulisan Pak KKG tentang pola pemanfaatn minyak bumi Indonesia, tulisan Tidak ada subsidi bagi BBM dan demo demo yang mengarah kepada kekerasan dan pengrusakkan, serta chaos yang mengarah pada destabilisasi serta menuju pemerintahan yang babak belur,  suramnya masa depan bila kenaikan BBM ini terjadi.. membuat penulis berfikir… berapa lama lagi kita akan meninabobokan anak negeri ini.

Krisis energi minyak ini pasti akan terjadi cepat atau lambat… Sayang kalau bangsa ini hanya bisa bereaksi setelah datangnya badai,.. bukan proaktif membersiapkan jalan untuk menyambut kedatangan Krisis energi ini.

 
Wake up…. For sure,… Krisis ini pasti akan terjadi, lihat saja statistik,  konsumsi dunia terhadap penggunaan minyak adalah 80 juta barrel oil per HARI.. angka 80 juta barrel perhari mungkin nggak akan menimbulkan masalah kalau cadangan dan produktifitas dunia ndak ada abisnya,, lha nyatanya kan ndak begitu. Menurut statistik lagi, reserve minyak  yang ada di muka bumi ini mencapai 800 milyar barrel, dengan estimasi masih ada lagi sekitar 3 trilyun barrel minyak bumi yang belum diketemukan, (padahal yang 800 milyar dan yang 3 Trilyun ini pun belum tentu semuanya bisa dipompa keatas bumi dan digunakan sebagai sumber energi..)

 Anway, kalau kita menghitung balik, berapa lama lagi kita bisa menggunakan energi cadangan minyak dunia  maka dengan asumsi penggunaan minyak konstan ( padahal pastinya terus meningkat setiap tahunnya) maka dari 800 milyar cadangan dunia akan ada 10,000 hari tersisa sebelum cadangan minyak dunia habis.. bis. Nah kalau kita hitung maka 10,000 hari ini sama dengan 27 tahun.   Kalau kita mau menghitung dengan benar dan memasukkan asumsi peningkatan konsumsi dunia sebesar 5% saja, maka hitungan 27 tahun merosot menjadi 15 tahun saja.

 Maka tepatnya pada tahun 2023, kita akan menghadapi krisis energi yang sesungguhnya dan mungkin bisa lebih cepat lagi menyadari pola pengunaan energi kita yang terus meningkat setiap tahunnya.  Well paling cepat 15 tahun lagi, atau paling lambat 27 tahun lagi.  Dimana kita pada saat itu… sudah pensiunkah?  

Ada yang masih bersikeras.. ah.. tenang aja yang 3 trilyun pasti akan ketemu kok,

Mungkin Benar.. tapi dengan trend konsumsi yang ada, maka dengan harga berapa minyak tersebut akan dijual kepada kita? Can we afford to buy such luxury oil in the future?

 

Coba kita pandang kedepan, 15 tahun mendatang, dimana anak anak kita yang saat ini masuk SD  kelas3  akan berumur 23 tahun, baru lulus kuliah, namun sulit bekerja karena malam pekat tak ada listrik terang benderang yang selama ini kita nikmati, dan terus secara boros dihamburkan..

 

Sementara kita sibuk berdebat… Subsidi BBM  boleh atau tidak

Sementara anak anak kita terlena, nonton  tv berjam jam

Sementara iklan rokok dengan gemerlap ribuan watt menerangi malam hari

Sementara kegiatan non produktif  disko disko, hura hura, dan beragam perhelatan terus berjalan..  

Sementara para politisi engan bervisi

 

Kita di lelapkan… “tidak ada krisis energi”

Anak anak kita terlelapkan  Jangan khawatir nak… kita kaya kok

 

Seharusnya mereka dibangunkan dari lena, dan dipersiapkan untuk menyambut dan mendesain alternative energi lain yang akan mereka gunakan dimasanya nanti,  atau lagi lagi kita , masih memiliki pola fikir tuan tanah kaya yang berfikiran ah nanti kan ada yang akan menemukan alternatif energi tersebut gue tinggal beli aja….  Tenang brur  belanda masih jauh….

 

We are heading to a nowhere, while other prepare in detail.

 

Kalau benar ini cara fikir kita, then We are HOPELESS,

sementara Amerika dengan berani dan boldy mencaplok reserve minyak irak, karena sadar that we are heading into that , sementara Amerika melarang Iran mengembangkan Nuklir dinegaranya, karena for sure siapa saja yang memilik teknologi nuklir paling tidak akan terlepas dari jeratan krisis akibat langkanya fuel fossil ini  sekaligus keluar sebagai pensupply energi dunia at what cost we dont know,.

 

tetapi negara ini, bangsa ini… masih lelap…the party isnt over yet….

 Situasi ini dan kedepan memang sulit, dan dipersulit dengan keenganan kita untuk membuka mata, bahwa jaman memang telah berubah,  pola konsumptif yang kita miliki will be heading into an end. Pola hura hura serta boros harus segera dihentikan pada setiap level, dan mulai menggantikan dengan pola produktif serta penghargaan yang sesuai dengan produktifitasnya,

Harga minyak mahal ndak jadi masalah bila penghasilan kita juga cukup.  masalahnya kita terbiasa dijadikan “tenaga murah meriah  atau bahkan peminta minta” sehingga  kenaikan bensin menjadi malapetaka. INI adalah buah dari sistem pendidikan yang gagal membuat manusia indonesia produktif dan layak untuk hidup sejahtera.

This situation is difficult and hard, but is by no mean Hopeless.

 

Kita harus segera merubah pola didik kepada anak anak kita.sekaligus mencontohkan penggunaan energi yang hemat dan berguna.

 

There is a hope, bahwa someday adalah anak anak kita yang berhasil dan sukses mengembangkan energi alternative, entah dari teknologi nuklir, solar, wind atau yang lainnya. Lebih pastinya hal ini adalah tugas kita sebagai pendidik untuk menghantarkan anak anak mampu menguasai iptek dan mampu mendesain sekaligus mempersiapkan mental anak menghadapi zaman yang tak pasti. Mereka perlu kemampuan kreatifitas untuk keluar dengan alternative solusi di masa depan dan dibangunkan dari lena tuk menghadapi kenyataan dengan mata terbuka.

 

Bagi kita hal ini adalah kerja hari ini, harus dimulai dari sekarang, let us start working to make them start thinking to solve their future problems.

Then when someone ask me about pension,  I must say  do we have the privilege to dream our pension, while our kids are still spoil and hopeless ?

 

Lagi lagi… Mereka  harus sukses… at any cost we must prepare.

 

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.