WTS for Worse Than Stealing…

 

Mencuri, adalah sebuah pekerjaan yang mendapatkan kecaman dimana mana. kita semua mengetahui alangkah dibencinya pekerjaan pencuri ini.    Di manapun kita berada, di strata apapun dimana mana, pekerjaan mencuri adalah pekerjaan yang hina, dan hukumannya mendekam di penjara yang dingin  hingga potong tangan. Mencuri, berarti mengambil barang/uang miliki orang lain/masyarakat dengan atau tanpa izin.

 

Korban pencurian biasanya sedih, nelangsa atau  ada juga yang marah besar, memaki maki atau memanggil polisi untuk mengusut si pencuri dan memberi hukuman yang setimpal….. 

 

Ah.. pastinya kita tidak ingin anak anak kita menjadi pencuri nantinya. Mencuri jelas jelas dilarang agama dan negara, “Thou shall not Steal..” demikian bunyi ten Commandment.

 

Di dalam Islam, hukum mencuri ditegaskan di dalam Al-Quran:

 

‘Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah kedua tangannya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana’ (Q.S. Al Maidah (5) : 38 )

 

Ketika kita menjual sebuah produk yang dibeli oleh masyarakat, kemudian produk tersebut gagal memberikan performance/kinerja yang diharapkan, maka kasus ini disebut sebagai “Worse Than Stealing”. Lebih buruk dibandingkan dengan pencurian.. WOW  

 

Bagaimana mungkin,… would you be kind and care to explain? Well, menurut Mr Taguchi seorang pakar kualitas dari Jepang yang terkenal dengan “Taguchi Method”, hal ini lebih buruk dari mencuri dikarenakan kalau kita mencuri uang Rp 100 ribu dari orang lain, maka orang tsb kehilangan 100 ribu, dan kita mendapatkan uang 100 ribu. Tdak ada pengurangan nilai uang , hanya ada perpindahan kepemilikan

 

Tapi dalam hal kita menjual barang seharga 100 ribu pada orang namun tidak berfungsi, maka orang tersebut sama, telah kehilangan uang 100 ribu, namun bedanya kita tidak mendapat 100 ribu, kita mungkin hanya mendapat 40 atau 50 ribu saja karena ada biaya produksi pembuatan barang yang hilang yaitu sebesar 50 hingga 60 ribu tsb.  Terjadi pengurangan nilai uang yang hilang dikarenakan memproduksi barang sampah.

 

 Jadi menjual barang tidak berkualitas sama saja mencuri even WORST..

 

Nah ..coba kita  aplikasikan kasus diatas pada pendidikan kita?

 

Berapa banyak institusi pendidikan yang benar benar membawa pencerahan pada anak didik kita, sehingga mereka mampu melangkah menuju kesuksesan.

 

Berapa banyak sekolah atau bahkan perguruan tinggi menyadarii bahwa lulusannya tidak memiliki kompetensi yang diharapkan, padahal waktu dan tenaga erta biaya telah dibayarkan.

 

Oleh karenanya pendidikan perlu mengenal dan menerapkan  proses rekayasa kualitas pendidikan.

 

Dalam membahas sebuah rekayasa kualitas pendidikan, penulis mengenal dua proses utama dalam mengendalikan hasil, dalam hal ini yaitu.

 

 penjaminan kualitas pendidikan  semasa perencanaan (OFF-Line) dimana proses pengendalian kualitas diterapkan pada fasa perencanaan dengan menerapkan target optimasi pada setiap parameter kinerja pendidikan dan menerapkan  metoda statistik diterapkan jauh sebelum pelaksanaan proses pendidikan di sekolah sekolah dilaksanakan,

Penjaminan Kualitas Pendidikan semasa pelaksanaan (On-Line)  dimana proses pengendalian kualitas diterapkan pada fasa pelaksanaan proses pendidikan di sekolah sekolah tersebut.

Selama ini kita mengenal konsep kualitas seringkali dalam konteks sebuah pabrik dalam hal perbaikan atau pengendalian produk, yang diterapkan pada fase proses manufaktur produk tersebut sudah atau sedang berjalan,  sampel produk jadi, dianalisis kesesuaiannya dengan blue print serta dirakit dengan bagian lain untuk dilihat sejauh mana kecocokan dan kesesuaian yang dimiliki produk tersebut. Bila terjadi ketidak sesuaian yang sangat signifikan dengan gambar maka proses manufaktur diihentikan dan dicari inti permasalahan yang ada  yang membuat produk menyimpang dari blueprint. Kualitas pabrik akan diukur sejauh mana produk produk hasil fabrikan sesuai dengan gambar teknik dan dengan tingkatan toleransi yang diminta.

 

Permasalahannya akan menjadi jauh kompleks apabila terdapat kesalahan pada blueprintnya. Sehingga membuat benda produk meskipun telah dibuat sesuai dengan gambar namun  tidak mampu berfungsi sesuai dengan kinerja yang diharapkan, tak perduli sepandai dan selihai apa orang orang yang terlibat dalam proses manufaktur benda tersebut namun hasil akhir dari kinerjanya tak sesuai karena terjadi kesalahan dalam desain

 

Tak sedikit pembuat barang yang tak perduli dengan kualitas barang yang dideliver kepada pelanggannya,  pelanggang membeli barang yang kadang jauh dari fungsi yang ditawarkan, atau hanya mampu berkerja beberapa waktu saja sebelim kemudian “kaput”,. Tak berguna lagi

 

Taguchi  menyebut kasus seperti ini dengan kalimat “ Worst Than Stealing”

 

Hal yang sama akan terjadi dalam pendidikan, tak perduli seberapa hebat dan konsistennya para guru dan civitas akademika dalam melaksanakan proses pendidikan, hanya akan menjadi sia sia bila ternyata kesalahan ada pada blue print pendidikan yang hendak dicapai. Arang Habis besi Binasa,  habis sudah tenaga serta fikiran para pendidik untuk mencapai target Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar,  namun semua sia sia karena SK dan KD tersebut tidak sama sekali memiliki korelasi dengan kebutuhan masayarakat di masanya nanti.

 

 Masyarakat membutuhkan tenaga muda lulusan yang kreatif memberikan solusi, namun yang didapat hanya sekumpulan manusia beo yang hanya memuntahkan jargon jargon yang dihapalkan selama ini, enggan untuk berinisiatif dan berbeda dengan kumpulannya.

 

 Untuk itu sangat penting memahami “Quality by Design” untuk pendidikan. Dimana kualitas pendidikan yang dicapai memang hasil sebuah perencanaan, bukan tambal sulam atau untung untungan.

 

 Proses Pendididikan tidak dan bukan berjalan pada ruang inert hampa udara. Pasti ada input, proses serta ouput yang saling mempengaruhi,  tak jarang output satu proses menjadi inputan proses lain. 

 

School corporation inc., sekolah berbisnis, bisnis sekolah atau sekolah mengadopsi  pola business dalam meraih kepuasan palanggan.   Berkembangnya Kode,  benchmark dan good practice di sektor bisnis dan profesional sedikit banyak memberikan angin segar pada pendidikan. Saat ini pendidikan Indonesia sudah banyak mengadopsi pola bisnis dalam mengatur manajemen sekolahnya, namun sayangnya yang diadopsi hanya dari sisi bagaimana memperoleh pengembalian finansial secepatnya dan making profit dari kegiatan pendidikan, dan keuntungan finansial itu dihasilkan seringkali dengan cara cara tidak etis, membungkus dengan jargon jargon pendidikan tanpa warranty disisi kepuasan pelangan dan perbaikan proses bisnisnya. Sungguh sayang bukan dalam hal memberikan kepuasan pelanggan (siswa) uantuk nantinya siap menghadapi zamannya.

 

Bayangkan jika sebuah sistem pendidikan yang didesain untuk menyambut masa depan ini mengadopsi sistem dan good praktice yang ada di dunia bisnis profesional. Bagaikan sebuah bisnis yang baik, kita dipaksa untuk memulai memfokuskan pelayanan pada konsumer dalam hal ini adalah para peserta didik dan produk yang hendak ditawarkan yaitu pendidikan berkualitas yang ditawarkan sekolah

Di Jepang, Keseuaian rencana dan aksi ditelusuri dengan secara runut, dengan membuat sebuah gambar atau skema ” House of Quality” atau sebuah proses yang lebih dikenal dengan  Quality Function Deployment  (QFD).

QFD adalah sebuah kegiatan rutin pada sekumpulan perencanaan dan komunikasi   yang memfokuskan serta mengkoordinasikan keterampilan sebuah organisasi dalam hal merekayasa, membuat dan memasarkan barang yang ingin dibeli oleh pelanggan, dan terus dibeli tidak membuat kapok.    “ [Hauser&Clausing]

 

tujuan dari proses QFD ini memstimulasi dan membangun komunikasi multidisiplin antara marketing, desainer, manufakturer, tester dan user dalam memberikan kepuasan bagi pelanggan penguna produk.

 

QFD mendukung tim dalam mengidentifikasikan kebutuhan pengguna/kostumer dan menginterpretasikan keinginan tersebut dalam bentuk parameter teknis serta ukuran target yang dapat diukur dan dilaksanakan dalam sebuah proses desain.

 

Dengan menggunakan QFD, perusahan besar Toyota, Suzuki, Hewlet Packard, Nokia dll  merancang dan membuat produk produk mereka, yang berorientasikan kepuasan pelangan, sehingga pelangan yang pernah membeli merasa produk yang dibeli adalah “Gue Banget” dan akan terus membeli lagi bukannya malah KAPOK…

 

Nah.. akankah pendidikan juga menerapkan sistem ini ?

 

JAWABNYA HARUS….. sebab MEREKA HARUS SUKSES. .

 

 

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.