“Eeeyore” dalam kisah Winnie The Pooh adalah seekor donkey atau keledai yang cutie dan menjadi idola beberapa anak anak kecil dalam komik Winnie The Pooh. Dalam kehidupan, keledai meskipun memiliki suara melengking yang memekakkan dan membuat sakit telinga, namun masih ada digunakan sebagai hewan pembawa beban. Kebergunaan donkey, memang sebagai alat transportasi baik barang atau manusia. Dengan seekor donkey, Nabi Isa berkeliling memberikan tausiah bagi ummatnya, dengan donkey para kafilah berjalan membeli dan menjual barang barang merchant di masa lalu.
Nah yang akan kita bicarakan kali ini adalah seekor Donkey yang memang memiliki pola berjalan dengan lambat, bukan seekor kuda pacuan yang mampu melesat membawa tuannya menuju tujuan yang diharapkan. Dan sesuai dengan kemampuannya, pemeliharaan donkey tidak sesulit pemeliharaan seekor kuda pacu. Sangat berbeda sekali, baik dari segi pola makan dan treatment jauuh lebih mudah dan lebih murah disbanding dengan seekor kuda pacu.
Wait a second…..Sebelum kita melangkah lebih jauh dengan perkeledaian.. Apa korelasi seekor keledai dengan diskusi kita mengenai “Mereka Harus Sukses”.
Well. Tentu saja ada, sebab untuk menghantar anak anak kita menuju tujuan suksesnya kita memerlukan sebuah alat trasportasi, bila kita cukup cukup kaya kita bisa membeli seekor kuda pony yang cantik yang menyenangkan anak anak kita untuk akan menghantar menuju tujuan, Atau beberapa dari kita memang sangat kaya dan mampu untuk membelikan seekor Kuda Pacu dengan harga yang menggiurkan meski dengan resiko kegalakan dan keamanan anak anak kita. Nah buat sebagian besar yang masih berada di pinggir marginal secara finansial, mendapatkan seekor keledai yang berjalan terserok serok dalam menuju tujuan mungkin sudah menjadi berkah sendiri.
Nah.. ada sedikit bayangan khan
Seekor donkey, saat ini yang kita miliki merupakan parable dari keadaan sekolah sekolah kita yang memang tak mampu dijadikan hewan untuk lomba pacu, bak kuda balap. Seekor donkey adalah satu parabel dimana kita berharap guru guru yang carut marut dari kompetensi maupun morilnya ini yang akan mampu menghantar anak anak kita ke gerbang sukses. Atau kita bisa saja mengasosiasikan keledai ini dengan apa saja yang akan membuat anak anak kita sampai di gerbang sukses, tetapi satu hal yang perlu dan mohon diingat secara baik baik..” a donkey is a donkey”, meskipun anda buatkan rumah emas, dikasih pelatih yang hebat dia tetap sebagai donkey dia tidak akan berubah menjadi seekor kuda arab yang mampu melesat bak busur panah.
Seekor a donkey tidak akan berubah menjadi bijak atau holy meskipun dia membawa setumpuk buku hebat diatas punggungnya, atau meskipun dia bolak balik ikut pergi haji dia tetap sebagai donkey yang bersuara buruk, melengking memekakkan telinga dan berjalan dengan lelet..
Dalam kisah anekdot, donkey diasosiasikan dengan orang orang yang lemah pikir, atau kurang cemerlang dalam ide.
So dapatkah kita membayangkan anak anak kita hanya bisa memiliki seekor donkey untuk mencapai suksesnya. YA.. I mean the donkey.. dengan beragam parable yang melekat padanya. Sekolah sekolahnya yang sukar untuk dipacu menghadapi UN, guru gurunya yang hanya bisa melengking namun ndak bisa diajak berpacu menghadapi perlombaan negara tetangga, dan lain lainnya. Atau jworst even, Jangan jangan KITA KITA INI juga hanya mampu berperan sebagai DONKEY untuk anak anak kita mencapai Sukses. berteriak nyaring di internet.. mengetar dunia digital. Sementara anak anak tetangga kita dengan bangga mengendari pony putih yang cute dan lincah itu.
Yah.. seekor donkey tetap bermanfaat, bagi anak anak kita…pelan menyesakkan hati, namun apa daya itu yang kita miliki maka itu yang akan kita gunakan untuk anak anak kita. we should be grateful to have them arround…
can these be worse..
Nah bayangkan lagi, apa yang terjadi bila donkey yang hendak kita gunakan menghantarkan anak anak anak kita ternyata adalah seekor donkey yang sedang sakit sakitan.
Yang berjalan sebentar kemudian mengeluh,, minta beban diturunkan, ikut sertifikasi gagal karena memang jauh dari sehat, jauh dari mampu, namun payahnya keleday ini memerlukan perawatan yang melebihi perawatan seekor kuda pacu sekalipun.
Apa yang harus kita lakukan dengan situasi seperti ini. Should we drop the donkey.. sudah berbiaya mahal, tak juga anak anak kita bangga, dan belum tentu sampai pada tujuannya. Bisa bisa kita sampai pada sebuah peribahasa yang berkata ”arang habis besi binasa” habis resource kita,, namun anak kita tetap miskin kompentesi.
Selayaknya kalau anak kita mau dipersiapkan sbagai winner yang akan berpacu di jalur pacuan, maka kita dengan segera dan serta merta kita mengganti keledai keledai kita dengan kuda pacu kualitas coventry, high class breed, yang tingginya mungkin setinggi orang bule.. gagah.. tampan.. sekaligus anggun bila berjalan gemulai. Tapi dengan anak kta diatasnya, kuda pacu ini mampu menunjukkan kehebatanya dalam menghadapi rintangan, meloncat parit lebar, atau semak semak yang tinggi.
Eh. Sebaliknya kalau anak anak kita masih mengendarai keledai,. jangan berharap too much, berharap keledai untuk melakukan yang sama, meloncat tinggi melewati aral lintang, atau melompat jauh mnyeberangi sungai. Lah menyeberangi UN saja masih terpelesat apalagi menyeberangi samudera, untuk go Internasional.
Jadi mari kita sadari, so many donkeys around our education system..
Let’s be wise, use them as a donkey, not as a racing horse, and do not put too much burden to our kids to win the race, while riding a donkey…
Dan satu hal lagi yang lebih penting… DROP THE DEAD DONKEY.
Seekor donkey yang mati, jelas tidak berguna untuk anak anak kita
Mengapa kita yang harus berpayah payah untuk menggotong dead donkey.
Salah fungsi kalau dead donkey di bawa oleh kita
Fungsi donkey menghantar anak anak kita untuk sukses
Bukan untuk memberati anak anak kita dalam perjalananya menuju sukses.
Maukah kita melakukan itu ?
Kalau tidak, maka kita adalah cerminan donkey yang lemah ide, tak mampu mencermati keadaan apalagi memahami fungsi dari sebuah wahana.
