Quality By Design

Ada satu kalimat bijak yang sampai saat ini masih melekat dalam benak penulis,  hasil dan oleh oleh dari sebuah  pelatihan “Training Guide for Islamic Workers” pada tahun 1992 di Muslim Youth Foundation Manchester UK.oleh DR Hisham At Thalib seorang aktifis pergerakan Islam dikagumi penulis. Kata tersebut berbunyi.

 

“ If you fail to plan, you are planning to fail.. “

 

 

Bahwa dalam menuju sebuah target, diperlukan sebuah perencanaan, bahkan tidak cukup hanya sekedar perencanaan asal, melainkan sebuah PERENCANAAN YANG MATANG. Tidak cukup dengan peribahasa “kumaha engke wae”,  harusnya malah dibalik “Engke Kumaha ?”

 

Peningkatan “value added” manusia merupakan inti dasar dari konsep pendidikan merupakan hal yang sangat penting yang tidak bisa tidak harus direncanakan secara seksama. Oleh karena itu tips yang perlu diperhatikan dalam merencanakan sebuah grand design merupan salah satu topik yang menjadi perhatian khusus dari penulis.

 

Salah satu proses perencanaan dari sebuah grand design yang sangat baik dan menjadi perhatian adalah proses perencanaan yang penulis  saksikan pada kunjungan kerja ke BOEING semasa tahun 1997an. Yaitu sebuah perencanaan yang dilakukan oleh team BOEING ketika merekayasa Pesawat 777.

Peningkatan “value added” manusia merupakan inti dasar dari konsep pendidikan merupakan hal yang sangat penting yang tidak bisa tidak harus direncanakan secara seksama. Oleh karena itu tips yang perlu diperhatikan dalam merencanakan sebuah grand design merupan salah satu topik yang menjadi perhatian khusus dari penulis. 

  

Tentunya banyak masterpiece yang ada didunia ini dalam proses perencanaan,  salah satu proses perencanaan dari sebuah grand design yang sangat baik dan menjadi perhatian penulis adalah proses perencanaan yang penulis saksikan pada kunjungan kerja ke BOEING semasa tahun 1997an. Yaitu sebuah perencanaan yang dilakukan oleh team BOEING ketika merekayasa Pesawat 777.

 

Dari perencanaan yang dikembangkan oleh BOEING, terdapat sebuah konsep/masterpiece yang menarik untuk diterapkan dalam konsep manajemen pendidikan kita. Dikenal di dunia sebagai sebuah konsep desain Concurrent Engineering, atau ditranslasikan secara bebas menjadi Rekayasa serempak. Sebuah proses desain yang mensinergi kegiatan dari seluruh lini menuju satu target bersama.

 

Concurrent Product Definition

Pendefinisian produk secara serempak adalah pendekatan sistimatis menuju desain yang terintegrasi, simultan pada produk serta proses proses yang berhubungan termasuk engineering, manufacturing and support. Pendekatan ini dimaksudkan agar pengembang secara kerangka besarnya  mempertimbangkan semua elemen yang berkaitan dengan siklus kehidupan dari produk dari mulai konsep awal sampai pada pasca hantar, termasuk kualitas, biaya, skedul, dan persyaratan pengguna  Concurrent Engineering juga dikenal dengan  istilah TOTAL DESIGN : yaitu  Proses pengintegrasian subyek teknis dan non teknis dalam bentuk yang efektif dan efisien  (efektif = do the thing right, efisien=do the right thing)

 

 

Menarik setelah ikut bergelut didunia pendidikan cukup lama, penulis menyadari bahwa pendekatan kualitas yang ditawarkan pada  institusi pendidikan selama ini berkesan sporadik, anekdotal, kadang tidak menyentuh pada substansi kualitas anak didik nanti di masyarakat. nah disinilah kalau bayang bayang concurrent engineering ini diterapka pada sistem pendidikan anak kita maka skematiknya menjadi sebagai berikut.

 

 

Dengan mengadaptasi konsep perencanaan Concurrent engineering kedalam proses rekayasa ulang sistem pendidikan kita, maka 5 hal dibawah ini menjadi kriteria/pertimbangan yang cukup penting dalam mendefinisikan peran dari sebuah sekolah atau institusi pendidikan di tanah air ini.

 

1. Anticipate Keadaan Mendatang:

 Perubahan terjadi pada setiap organisasi dan setiap sektor dikarenakan tekanan kompetisi global, teknologi baru, sistim manajemen sumber daya, demografi yang bergeser, serta adaptasi kultur. Antisipasi bukan reaksi akan membuat efektifitas kinerja serta efisiensi dalam banyak hal. Kemampuan mengantisipasi keadaan di masa depan merupakan elemen dasar utama dalam pembentukan visi yang tepat. Tanpa kesadaran untuk mengantisipasi perubahan paradigma sosial yang ada maka penciptaan sekolah akan hanya membuat sebuah proses yang kelabu, tanpa kaitan dengan masa depan siswa itu sendiri. (untuk sampel proses ini baca Imagining the future)  

 

2. Simulasi “What If” :

 Kualitas pendidikan selayaknya dapat direncanakan dan ditingkatkan dengan mensimulasikan permasalahan permasalahan yang mungkin timbul. What if merupakan sebuah reka solusi, dimana setelah antisipasi keadaan yang akan datang, kta juga harus keluar dengan solusi utama serta solusi alternatif  dalam menjawab keadaan maa depan tersebut.  What if case tentunya membutuhkan kepahaman kita mengenai bagaimana sebuah proses pendidikan bekerja, bukan sekadar Black box yang tak dipahami carakerjanya. Diperlukan karakterisati setiap parameter serta efek variasi parameter terhadap luaran akhir pendidikan.  What if tentunya dapat diterapkan dengan dengan membuat model secara keseluruhan baik pada  kode komputer serta melakukan analisa case if secara akurat, dengan kemampuan memasukkan perubahan yang penting pada setiap tahapan desain. (untuk sampel proses ini baca Paving The way)  

 

 

3. Integrasi Seluruh Sumber Daya Sekolah :

 Proses perencanaan, rekayasa, pengembangan dan proses pembelajaran harus dapat diintegrasikan dalam pendekatan  manajemen, pedagogi serta kelayakan finansial institusi pendidikan. (untuk sampel proses ini baca It takes carbon to create diamonds)  

 

4. Innovasi Proses Pembelajaran:

 Pengembangan proses pembelajaran yang berorientasi pencapaia target kompetensi namun seuai dengan minat serta pada kebutuhan siswa memerlukan kemampuan sekolah untuk berinovasi, dalam hal mencari pemecahan alternatif (lateral thinking) yang membuat pendekatan proses pembelajaran menjadi sebuah proses menyenangkankan, menantang dan sekaligus mencapai target yang diharapkan.

 

5. Quality by Design:

 Penguasaan akan kebutuhan stakeholder serta pemberian layanan pendidikan yang tepat arah dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan memberikan jalan untuk dominasi konsep perbaikan pendidikan secara terstruktur, dan sistematis

 

Meskipun jelas keempat elemen pertama merupakan proses yang penting, tapi kali ini ulasan penulis akan lebih memfokuskan pada elemen kelima, yaitu Quality by Design, sebuah pendekatan kualitas sekolah yang sedemikian rupa sehingga diatas kertas kualitas tersebut sudah benar  benar terlihat,  dalam hal ini, maka ada tujuh pendekatan strategis untuk penerapan Quality By design ini.

 

a.  Orientasi Layanan Pendidikan yang jelas

 

b.  Hubungan yang relevan pada objektif  pendidikan

 

c.  Sistim pemilihan proses belajar dan evaluasi proses pendidikan yang Efektif

 

d.  keberadaan sistem Manajemen Pendidikan dan kontrol yang efektif

 

e.  tersedianya Sumber daya pendidik yang kreatif

 

f.  penerimaan institusi pendidikan  terhadap inovasi

 

g.  tersedianya Komitmen yang tinggi

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.