Paving The Way for Their Success

Mereka Harus Sukses,

Itu komitmen yang kita nyatakan untuk anak didik kita. Anda setuju… What Next ?

 

Pertama tama kita harus sadar bahwa sukses dalam pandangan kita hari ini mungkin akan berbeda dengan sukses di mata anak anak kita. Anak kita mungkin akan hidup dengan zaman yang berbeda dengan zaman kita, jadi lupakan sentimental memori masa lalu  kita, sebaliknya pergeseran paradigma yang terjadi dalam masyarakat harus kita pahami lebih  dahulu untuk kemudian mempersiapkan langkah.

 

Salah satu pergeseran yang terjadi di tatanan sosial adalah   perkembangan teknologi informasi dengan sangat cepat dalam satuan detik. Kita dapat melihat bahwa ekonomi dunia bergerak menuju sebuah masyarakat informasi yang inclusive dari ketersediaan sumber informasi hingga akses telekomunikasi, hand phone dengan 3.5 G bertaburan. Teknologi ini jelas menciptakan sebuah tatanan sosial yang jauh berbeda saat ini dengan masa lalu, dan bahkan masa depan dengan saat ini.

 

Masyarakat duniapun sepakat bahwa teknologi informasi ini merupakan kunci dalam mencapai sustain growth, prosperity dan perkembangan nasional dalam dunia kontemporer ini. Baca saja deklarasi PBB ditahun 2000 menyambut millennium, atau deklarasi para menteri ECOSOC di tahun yang sama, yang intinya menyatakan bahwa penggunaan TI merupakan sarana dalam sebuah ekonomi dunia berbasiskan pengetahuan.

 

 

 

Ya… sebuah dunia yang berbasiskan pengetahuan, bukan sekadar kekuatan otot, atau kekayaan alam semata.Thomas Friedman

 

 

 

 

pada bukunya yang berjudul The World Is Flat: A Brief History of the Twenty-First Century, menyatakan bahwa ekonomi dunia berada pada level yang sangat “datar dan sejajar”  penyebabnya adalah kemudahan mendapatkan akses informasi sehingga meningkatnya kompetensi teknis di beberapa negara memungkinan sebuah perusahaan di sebuah negara tersebut untuk mengkoordinasikan supply chain yang kompleks dari/ke negara lain tanpa khawatir dengan batas geografi sebuah negara. Seorang pemuda yang terdidik, innovatif, motivated workforce, serta memiliki akses ke dunia luar tentnya merupakan human capital yang sangat berharga bagi sebuah bangsa dalam dunia yang semakin datar ini.  

 

Sayang sungguh, jikalau padang perburuan ekonomi yang datar ini tidak atau belum mampu dimanfaatkan dengan baik oleh para pemuda kita.   Sebab premise yang diminta adalah seorang pemuda  yang datang dari sebuah masyarakat yang berbasiskan pengetahuan. Bukan sekadar pemuda yang datang dari antah berantah yang tidak memiliki arah hidup serta mempunyai solusi bagi tatanan social local maupun internasional.

 

Berburu ke padang datar, jangan lupa gunakan TI

Berburu ke manca negara, tanpa TI  mungkin  semuanya tak berarti.

 

Aneh bila kita masih bersikukuh bertahan dan puas dengan sekolah yang didesain pada jaman baheula, dimana keperluan manusia yang sangat berbeda antara dulu dengan sekarang. Dulu lulusan sekolah mungkin diarahkan untuk menjadi priyayi priyayi yang akan mengisi lapangan pekerjaan sebagai abdi negeri alias PNS, dan yang dibutuhkan adalah orang orang yang sigap, patuh serta cerdas, tapi tidak perlu kreatif, sebab kalau kreatif nanti menyalahi aturan atau melangkahi atasan. Dahulu, jikalau seseorang sudah bisa membaca, menulis serta berhitung sederhana, masyarakat sudah akan memberikan gelar terpelajar baginya, saat ini ternyata itu saja tidak cukup, pada International ICT Literacy Panel, 2002, seseorang diharapkan untuk menguasai sains, teknologi dan budaya serta memahami informasi dalam beragam bentuknya.  Nah saat ini jumlah peluang kerja ada banyak jauh di swasta, dan bekerja di sektor swasta ada persaingan  sengit untuk merebut peluang.

 

Kembali pada perburuan di masa depan, ada beberapa hal yang kita bisa tarik untuk setting di masa depan, yang pertama adalah abad 21 adalah sebuah masyarakat berbasis pengetahuan, yang kedua adalah penguasaan keterampilan spesifik/teknis untuk ditawarkan pada masyarakat dunia dan yang ketiga adalah kemampuan untuk memanfaatkan akses informasi agar mengetahui kebutuhan supply dan demand yang terjadi di dunia dan yang terakhir adalah kemampuan untuk mengenali bahasa lingua franca yang digunakan dalam bertransaksi atau berkomunikasi.  

 

Kalau kita amati maka prediksi keterampilan yang diperlukan pada abad 21 ini terbagi menjadi 2, yaitu.

1.                    Keterampilan dasar era-digital : yang mencakup keterampilan CaLisTung, dalam bahasa universal, keterampilan proses sains, keterampilan ekonomi, keterampilan teknologi, keterampilan visual, keterampilan informasi, keterampilan multicultural, serta pemahaman globalisasi.

2.                    Keterampilan Khusus “Inventive Thinking”, dimana para ahli setuju bahwa dengan semakin dominannya penggunaan teknologi dalam kegiatan sehari hari, maka keterampilan kognitif menjadi semakin penting,  dengan mengutip 

In effect, because technology makes the simple tasks easier, it places a greater burden on higher-level skills” (ICT Literacy Panel, 2002).

 

Oleh karena itu diperlukan set keterampilan untuk menjadi lebih inovatif yaitu sbb

a.                    Keterampilan mengatur kompleksitas yang sering berubah,

b.                   Keterampilan mengarahkan diri sendiri: goal setter  

c.                    Keterampilan mengunyah rasa penasaran , bukan menelantarkan 

d.                   Keterampilan kreatifitas, melihat dalam sudut pandang yang berbeda dan memberi alternatif solusi yang “out of box”

e.                    Keterampilan menghitung dan mengambil resiko 

f.                     Keterampilan berfikir tingkat tinggi dan penalaran yang logis.   

 

Nah setelah sedikit mengenal padang perburuan anak anak kita dimasa datang, dan memahami what it takes for them to success, maka baru kita perlu menata ulang system pendidikan kita, targetnya sudah jelas. Yang dibutuhkan adalah How to prepare them to that level.

 

Yang paling pertama pastinya adalah ketersediaan sekelompok guru/trainer/ coachs yang memiliki keterampilan yang cukup untuk dapat menghantar pemuda kita ke perburuan padang datar.

 

Dengan status guru menjadi profesional sesuai dengan undang undang guru, maka aneh kalau kita masih juga mau mengambil guru yang tidak profesional untuk membuat anak anak kita menjadi profesional. Menarik ketika melihat standar keprofesionalan guru, baik dari kompetensi pedagogi, maupun kompetensi keilmuan ternyata disana menyiratkan adanya penguasaan TIK dalam proses pembelajaran. Sangat tak mungkin rasanya, bertaruh   generasi masa depan kepada guru guru yang  tak punya kemampuan yang diperlukan.   

 

Dalam hal ini kita tidak lantas perlu sekelompok guru baru, (baik kalau memang punya) tetapi kita bisa memberdayakan para guru guru ini dengan penguasaan serta mentalitas yang baru, dan lebih utama lagi sang guru harus mau diberdayakan, bahkan INSIST untuk memberdayai diri sendiri.

 

Jadi.. satu langkah perencanaan pertama adalah membuat sebuah CPD Continous Profesional Development untuk guru. Mengapa demikian, bukankah guru guru tsb telah lulus dari sekolah bergengsi, mengapa harus pelatihan dan pengembangan lagi. Jawabnya sederhana, sebab teknologi dan tatanan sosial ekonomi terus berkembang, tidak bisa tidak guru guru harus ikut berkembang sesuai dengan tuntutan zaman.

 

Rolling stone, no moss” kata pepatah barat, sedikit banyak merepresentasikan bahwa guru yang terus bergulir mengikuti kemajuan pengetahuan akan lepas dari kejumudan dan kebanggaan semu.

 

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.