Ambil nafas anda, hentikan sejenak, dan lepaskan perlahan.
Selanjutnya…turunkan katup mata anda, dan tenangkan diri dan mulailah membayangkan apa yang akan anda lihat pada situasi di tahun 2020 dimanakah kira kira anak anak kita berada, adakah mereka cukup dibekali dengan keterampilan untuk sukses di abad 21.
Cukup kreatifkah anak kita, mampukah anak kita bekerja dalam sebuah tim yang solid, dengan, persaingan global serta technology tinggi mendominasi sisi kehidupan nanti. Apakah mereka menjadi key person atau sebatas pekerja kasar.
Sejenak kemudian layangkan pandang anda pada situasi di negara tetangga kita, dimana anak anak mereka berada, apa yang mereka banggakan dan bagaimana sekolah mereka membentuk kebanggaan tersebut. Adakah mereka berbicara dengan bahasa universal yang tidak anak kita pahami, Science, Technology, atau lebih jauh lagi ada mind gap yang tercipta antara anak kita dengan warga dunia lainnya.
Setelah menerawang bayangan di masa depan ..
Bukalah mata kita lebar lebar, dan lihat apa yang sedang terjadi saat ini, adakah anak kita tengah sibuk mempersiapkan diri dengan aktifitas positif di sekolah, di komunitas atau mereka larut dalam gegap gempita tawuran, narkoba dan kenakalan lainnya.Lihat kembali sejauh mana prestasi membaca, menulis dan berkarya mereka saat ini. Dan coba lihat juga, adakah semua siswa lulusan SMU berhasil mendapatkan tempat terhormat mereka di perguruan tinggi sesuai dengan potensi yang dimiliki, atau mereka berguguran menjadi preman jalanan, tanpa kejelasan makna hidup dan rencana yang jelas dalam memaknai hidup itu sendiri.
Adakah lulusan SMU tersebut mampu mengisi kekosongan yang ada dalam masyarakat kita, atau kita akan melihat sebuah gunung generasi pengangguran, yang tidak tahu harus berbuat apa setelah SMU.
Kalau itu kenyataannya, maka kita perlu melihat kembali sekolah yang telah menghasilkan generasi ini. Adakah visi sekolah dibangun dengan benar pas dan tidak membingungkan,
Adakah guru dan pemimpin sekolah memiliki skill/keterampilan sehingga mereka tidak gelisah dalam menggapai visi,
Sudahkah mereka diberikan penghargaan yang wajar agar tetap komit,
Adakah dukungan infrastruktur untuk mereka mencapai visi agar mereka tidak frustasi
Dan yang terakhir adakah langkah langkah konkrit atau action plan yang jelas dari sekolah untuk melangkah mencapai visi sekolah, sehinga bukan hanya Talk Only dari sekolah untuk nantinya menghantar pemuda kita memasuki abad ini.
Dua Koin Kegagagalan
Dua sisi koin kegagalan yang mungkin kita saksikan ini amat memprihatinkan, pada satu sisi koin, pemuda kita kok bisa bisanya sedemikian lembek sehingga gagal melahap pembelajaran di sekolah, bagaimana mau bersaing di dunia global ini kalau ditingkat kelas saja mereka berguguran., adakah mereka memang bodoh atau pendidiknya yang salah dalam mengajar.
Di sisi lain kegagalan sistematik pendidikan juga menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita gagal untuk menghantar siswa yang terbukti memiliki potensial, bebet bobot dan bibit untuk masuk dalam gerbang kehidupannya selanjutnya. Kegagalan ini bukan kegagalan milik personal semata, namun dalam porsi yang luas dan panjang merupakan kegagalan yang menentukan nasib bangsa ini ke depan dan akan mempengaruhi kehidupan ekonomi bangsa dan keberlangsungan sistem pemerintahan.
Sekolah kita harusnya mampu menghantar anak anak kita untuk terus melanjutkan ke perguruan tingi, mampu bersaing dalam dunia kerja, dan mampu mempersembahkan sebuah karya bukti kewarganegaraannya.
Masihkan ada harapan?.
Untuk kesekian kalinya, lihat ke sekeliling, pandanglah dengan teliti, masih adakah tunas daun yang dapat kita sandarkan harapan kita, adakah sekolah yang mampu merenda ulang kegagalan ini, adakah mungkin muncul sekolah dengan trend alternative baru, dimana komunitas dan pendidik bekerjasama mendefinisikan ulang bahkan melakukan reengineering system pendidikan dalam tatanan fondasi, dan kemudian mulai membangun sebuah situasi pembelajaran yang dinamik, dengan assesmen yang selaras yang didesain untuk mempersiapkan anak anak sukses dalam dunianya saat ini dan di masa depan.
Tentunya, diperlukan komitmen yang cukup untuk mampu merubah dalam rentang 12 tahun ke depan. Banyak hal yang mungkin terjadi selama rentang 12 tahun tersebut. Diperlukan sebuah komitmen panjang untuk meyakinkan terjadinya perubahan. Ribuan kendala menghadang dari setiap kelima elemen dan merupakan sebuah tantangan yang berat untuk menyatukan lima elemen dalam satu kegiatan perubahan sekolah. Namun, dengan sedemikian besarnya taruhan yang kita hadapi, siapa yang tahu, apa yang menanti anak anak anak kita di pintu gerbang mas depan nantinya.
Satu hal yang mulai saat ini kita bisa jaga adalah sebuah komitmen bahwa
MEREKA HARUS SUKSES